#DakwahBilqalam Eps 03
#Penyuluh Bergerak
Banyak orang ingin menulis, tapi tak sedikit yang merasa kesulitan memulai. Alasannya beragam: bingung mau menulis apa, merasa tidak punya bakat dll. Padahal, kenyataannya memulai menulis itu sangat mudah. Cukup 2 hal: Mulailah dari apa yang KITA LIHAT dan apa yang KITA RASAKAN.
Mulai Dari Apa Yang Dilihat
Sering kali kita mengira bahwa menulis harus dimulai dengan ide besar. Padahal, kehidupan sehari-hari justru menyimpan ribuan inspirasi yang siap diolah menjadi sebuah dakwah bilqalam yang sangat mengedukasi umat.
Mata kita melihat begitu banyak kejadian setiap hari. Misalnya, daun yang jatuh perlahan di halaman, obrolan ringan dengan tetangga, atau anak kecil yang belajar berjalan sambil tertawa. Peristiwa-peristiwa sederhana ini, jika dipandang dengan mata hati dan ditulis dengan sudut pandang yang jernih, bisa menjadi dakwah bilqalam yang bermakna dan mengedukasi umat.
Kuncinya adalah kepekaan. Kita perlu belajar menangkap makna dari hal-hal kecil yang mungkin dianggap biasa oleh orang lain. Itulah awal dari ketajaman dakwah bilqalam. Melihat yang tak dilihat orang lain dan merasakan yang tak dirasakan orang lain.
Mulai Dari Apa Yang Dirasa
Selain apa yang kita lihat, sumber dakwah bilqalam yang tak kalah penting adalah apa yang kita rasakan. Perasaan cinta, sedih, marah, takut, haru, rindu, atau bahagia adalah bahan mentah yang sangat kaya untuk dijadikan dakwah bilqalam.
Ingat..! Setiap emosi yang kita alami selalu menyimpan pelajaran. Ketika kita bisa melihatnya dari sisi yang lebih dalam, maka Dakwah bilqalam kita pun akan memiliki nilai inspiratif dan reflektif yang bisa menyentuh dan mewarnai umat.
Menulis dari hati adalah cara paling jujur dalam berkarya. Pembaca bisa merasakan ketulusan dari setiap kalimat yang kita tulis. Dan sering kali, tulisan yang sederhana justru menjadi sangat kuat karena ditulis dengan emosi yang tulus dan pengalaman yang nyata. Right?
Membingkai dengan Sudut Pandang Positif
Agar tulisan kita bukan sekadar curhat atau luapan emosi semata, penting untuk membingkainya dengan sudut pandang yang positif. Inilah yang membedakan tulisan biasa dengan tulisan yang memberi inspirasi.
Misalnya, saat kita menulis tentang rasa sedih, jangan berhenti pada kesedihan itu saja. Renungkan apa pelajarannya dan apa hikmahnya, lalu beri sentuhan spiritualnya, jadi deh. Mudah bukan?
Akhirnya, mari bersama menata umat. Keluarlah sejenak dari rutinitas monoton kita yang boleh jadi hanya itu-itu saja. Mulailah perjalanan Dakwah bilqalam Anda untuk umat berbasis digital.
Kami telah menyediakan wadah terbaiknya. Boleh intip website-nya dengan klik: GERAKAN SULUH INDONESIA, atau langsung action pada link berikut: MULAI MENULIS
Terima Kasih, Salam #PenyuluhDigital




















